Catatanku

Tuhan beri jalan

Posted by: glittz on: September 29, 2009

Pada Senin itu saya seperti mendapat pencerahan lewat berbagai firman Tuhan yang dibagikan saat sel. Sepertinya Tuhan membuka jalan dalam keputusasaanku akan kehidupan. Sebelumnya aku merasa kurang percaya diri untuk berkomunikasi yang notabene adalah fondasi dasar dan kompetensi dasar dalam bekerja. Dalam kevakuman komunikasi dengan komunitas aku sangat takut untuk berbincang atau memulai berbincang dengan orang lain. Ceritanya berawal saat aku ingin bergabung dalam Legio untuk orang-orang muda. Dan aku melihat ruangan yang biasa dipakai oleh Legio dan ruangan sebelahnya ternyata sudah terpakai untuk acara lain. Kemudian aku bertanya pada seorang ibu yang aktif dalam kegiatan kegerejaan. Dia lalu menanyakan kepada temannya yang menjadi pengurus Legio untuk orang-orang muda pada saat itu dan ternyata Legio ditiadakan karena para anggotanya harus bekerja. Pada saat itu aku melihat ada acara yang kelihatannya menarik. Para anggota dari acara itu duduk santai di lantai sambil berbincang dan ada salah satu anggotanya yang memainkan gitar. Sepertinya menarik, begitu pikirku. Lalu dengan cuek aku coba untuk menanyakan apakah di sana menerima anggota baru atau tidak, kalaupun tidak bisa paling tidak aku sudah bertanya dan rasa maluku hanya pada saat itu saja. Dan akhirnya setelah aku bertanya ternyata aku boleh bergabung. Aku mencoba untuk mengikuti sel pada saat itu. Dan akhirnya aku seperti dibukakan kembali jalan oleh Tuhan dan aku menjadi terbuka bahwa aku sebenarnya memiliki kompetensi dasar dalam berkomunikasi dan menyampaikan pendapat. Dan saat itu kepercayaan diriku menjadi bertambah yang juga menambah keyakinanku untuk dapat bekerja kelak. Selain itu yang paling membahagiakan aku dapat kembaliĀ  menulis lagi setelah tidak menulis beberapa lama yang menurutku merupakan bakatku.

Ada beberapa pelajaran menarik yang dapat aku dapatkan

1. Yesaya 59 : 2
Sebagai manusia kita pasti pernah mempunyai hambatan psikologis secara internal yang terjadi dalam diri kita dalam melakukan tanggung jawab kita. Tetapi seringkali kita meminta Tuhan untuk “mencabut” hambatan tersebut sehingga akhirnya kita banyak menghabiskan waktu untuk berdoa tetapi dari diri kita sendiri belum mempunyai kemauan untuk mencabutnya sendiri. Memang semua tidak bisa jika tanpa kehendak Tuhan. Namun, dalam ayat ini dijelaskan bahwa Tuhan akan berpisah dan menyembunyikan diri sehingga Ia tidak mendengar. Meskipun dalam ayat ini yang menjadi pemisah merupakan kejahatan, tetapi menurut saya segala dosa adalah kejahatan termasuk kemalasan yang merupakan hambatan psikologis internal sehingga Tuhan tidak dapat memberikan berkatNya. Dan saat itu yang paling membekas adalah saat salah satu kakak pembina mengilustrasikan di tengah lingkaran dalam perbincangan dan dia mengajak dua teman lagi untuk berada di dalam lingkaran. Dia mengilustrasikan dirinya adalah Tuhan, kemudian dia mengangkat tangannya kepada salah satu teman yang juga berada di tengah yang diilustrasikan sebagai kita manusia. dan salah satu teman yang lain tadi menghalangi dan berada di tengah-tengah kedua teman tersebut. Kemudian kakak pembina yang diilustrasikan sebagai Tuhan tersebut meminta teman yang diilustrasikan sebagai kita manusia untuk menggeser teman yang berada di tengah-tengah tadi dengan tangannya. Dan bukan oleh kakak pembina tadi. Sehingga di sini terlihat bahwa kitalah yang menyingkirkan segala dosa (termasuk kemalasan) agar berkat Tuhanlah yang datang pada kita. Sesimpel itu. Ya memang jika hambatan psikologis secara eksternal seperti tekanan dari orang lain secara terus menerus atau masalah pertemanan, pasangan, atau masalah lain yang harus diselesaikan lebih sulit dan memerlukan doa untuk dapat diberikan jalan agar masalah-masalah tersebut dapat terselesaikan. Dari sini jika kita mendapatkan hambatan psikologis eksternal kita berdoa kepada Tuhan untuk menguatkan diri kita untuk menyelesaikan segala permasalahan yang ada, sedangkan jika ada hambatan internal sebaiknya kita tidak berdoa agar Tuhan mencabut hambatan psikologis internal tersebut melainkan berdoa agar diri kita kuat untuk tetap melakukan tanggung jawab meskipun kita masih mempunyai hambatan psikologis sehingga akhirnya akan membuat berkat akan sampai ke kita yang akhirnya jika kita sudah terbiasa melakukan tanggung jawab dalam ketidaknyamanan sehingga berangsur-angsur kita dapat menyingkirkan hambatan psikologis internal tersebut.

2. Yak 4 : 1-2
Sudah jelas

3. Markus 10 : 9
Dijelaskan tentang perceraian yang tidak diperbolehkan oleh Tuhan.

4. 1 Kor 11 : 7-8
Kesetaraan gender saat ini seringkali membuat manusia lupa diri. Wanita seringkali merasa lebih berkuasa dalam keluarga, padahal dalam ayat ini laki-lakiĀ  menyinarkan kemulian Tuhan dan wanita menyinarkan kemuliaan laki-laki. Sehingga wanita harus dengan rendah hati menerima kodrat ini sehingga harus mengatur dominasinya.

5. 1 Kor 7 : 12 – 14
Dalam pernikahan tentu ada pernikahan yang lancar yang selalu harmonis, tetapi ada juga yang sebaliknya. Jika kita mempunyai pasangan yang menyebalkan dan bukan orang beriman dalam artian selalu melakukan dosa sehingga merugikan bagi kita dan anak-anak, bukan berarti kita harus menceraikannya dan mencari yang baru. Tetapi dalam ayat ini orang yang tidak beriman tadi dikuduskan oleh pasangannya yang beriman dan dekat dengan Tuhan. Oleh karena itu kita harus mendoakan pasangan kita yang menyimpang dari jalan Tuhan agar kembali ke jalanNya, meskipun rasanya seperti tidak ada jalan, Tuhan pasti buka jalan di saat yang tepat.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.